Catatan Kritis dan Harapan dari Mubes IKAPATTI

0
21
Arista Junaidi, S.Sos, M.Kesos. Foto: instagram Arista Junaidi.

Oleh: Arista Junaidi, S.Sos. M.Kesos
Alumni S1 FISIP Unpatti 2004
Almuni S2 FISIP UI 2011

Kamis, 25 Maret 2021, para alumni Universitas Pattimura sukses melaksanakan Musyawarah Besar (Mubes) ke-1.

Kegiatan yang bertempat di Swissbell hotel, Kota Ambon, ini dihadiri oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM RI, Prof. Dr. Eddie Omar Syarif Hiariej, sebagai spekear stadium of general. Anggota DPR RI, Hendrik Lewerissa dan Mercy Barends yang mengisi seminar “Blok Masela dan Peran IKAPATTI”, bersama Wakil Dirut Pelindo II, Hambra Samal, Perwakilan SKK Migas, Kepala Bappeda Maluku, serta Ketua DPRD KKT.

Secara keseluruhan, rapat akbar IKAPATTI yang dibuka Asisten 1 Gubernur Maluku, M. Saleh Thio, berjalan lancar hingga terpilihnya Dr. Muhamat Marasabessy, SP. ST. M.Tech yang saat ini menjabat Kepala Dinas PUPR Provinsi Maluku, sebagai Ketua Umum IKAPATTI periode 2021-2025 menggantikan Dr. Zeth Sahuburua, SH., MH.

Ketua Umum IKAPATTI periode 2016-2020, Dr. Zeth Sahuburua.

Sebagai alumni Universitas Pattimura (Unpatti), saya terpanggil untuk mengikuti Mubes IKAPATTI. Ada banyak dosen dan non dosen yang hadir.

Saya mengira, sistem election atau pemilihan akan terbuka untuk semua alumni yang hadir. Ternyata tidak, hanya dibatasi pemilik suara representasi yang berasal dari fakultas.


Ketua Umum IKAPATTI periode 2021-2025, Dr. Muhamat Marasabessy.

Tentu mengecewakan. Namun, karena ini adalah Mubes pertama, sistem tersebut bisa dimahfumi. Dengan harapan, dapat diupgrade pada masa mendatang.

Secara jujur kita harus akui, Mubes IKAPATTI ke-I ini adalah sebuah langkah yang terlambat. Sebab, Unpatti sebagai campus of excellent, tertua (oldest) dan terbesar (bigest) di Maluku, baru mampu mengkonsolidasikan sumber daya alumninya untuk berhimpun dalam satu organisasi.

Unpatti bahkan kalah start dari kampus lokal lainnya, ambil contoh Universitas Darussalam atau Institut Agama Islam Negeri Rijali Ambon. Memang, IKAPATTI telah lama terbentuk, tapi baru terlaksana Mubes ke-I di tahun ini.

Lompatan IKAPATTI

Walaupun Mubes ke-I IKAPATTI dirasa terlambat, namun langkah-langkahnya harus gesit memberikan kontribusi kepada kemajuan daerah, bangsa dan negara.

Sebagaimana doktrin Tridharma Perguruan Tinggi yakni; pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, pengabdian kepada masyarakat.

Hemat saya, sebagai organisasi yang baru eksis, IKAPATTI harusnya banyak belajar dari berbagai organisasi alumni universitas yang telah duluan membesar di Indonesia, seperti ILUNI UI, KAGAMA UGM, IA ITB, IKA UNHAS dan lainnya.

Para organisasi alumni ini telah berhasil memainkan peran strategis, mendistribusikan para alumninya di berbagai lini pengabdian bangsa.

Eksistensi IKAPATTI harus melompat. Secara internal, harus cepat mengkonsolidasi dengan membentuk cabang-cabang alumni di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Dimana berbagai alumninya tinggal dan berdiaspora.

Ini bukan untuk tujuan politik, tetapi lebih pada menyatukan energi alumni agar bisa berbuat lebih untuk membangun kampus Unpatti agar lebih maju dan modern.

Kekuatan IKAPATTI terletak pada sejauh mana bisa menghimpun kekuatan alumninya, bukan untuk ajang reuni semata, tapi tempat berdialektika dan berkonsensus untuk tujuan yang lebih besar.

Jika tidak, maka lKAPATTI tak lebih dari kumpulan organisasi paguyuban yang seringkali digiring pada momentum politik praktis semata.

Secara eksternal, IKAPATTI harus menjadi supporting atau bridging dalam mengerakan dan mendistribusikan alumninya untuk berkembang dan mengisi pos-pos strategis dibangsa ini.

IKAPATTI harus meniru pola berbagai organisasi Yahudi, dimana kekuatan networking adalah yang utama. Yahudi berhasil menguasai dunia, lewat jaringannya yang solid. Diaspora turunan Yahudi diseluruh dunia adalah kunci.

Iniilah yang menjadi titik lemah orang Maluku sulit berkembang pada level nasional. Seperti disampaikan Rektor Unpatti, Prof. Dr. M. J. Sapteno, pada sambutan pembukaan Mubes IKAPATTI; “Orang Maluku masih didominasi karakter “katang”, saling menarik kebawah dan menjatuhkan”.

Kultur negatif ini harus diputus oleh IKAPATTI. Sesama alumni Unpatti harus saling merangkul dan membesarkan.

Sistem pendataan anggota IKAPATTI harus diperluas, bukan saja pada alumni S1, tapi juga S2 dan S3.

Saya kebetulan adalah anggota ILUNI UI dari jalur S2 FISIP UI. Pernah memilih Ketua Umum ILUNI UI, lewat sistem e-voting yang sangat demokratis.

Kedepan, IKAPATTI harus berani merubah sistem electionnya dari system of delegation, ke one man one vote system. Belajar menerapkan e-voting, agar semua alumni Unpatti punya hak suara yang sama.

Sebab, model sistem pemilihan yang dipakai saat Mubes ke-I kemarin, sudah ketinggalan zaman untuk organisasi alumni universitas dengan pesatnya kemajuan teknologi. Serta akan berdampak pada partisipasi alumni untuk aktif dalam IKAPATTI.

Untuk public acceleration, posisi IKAPATTI haruslah sejajar dengan pemerintah daerah dan juga rektor.

Sebab, IKAPATTI adalah lembaga otonom, independen, mandiri dan non partisan. IKAPATTI bukan lembaga underbouw kampus atau pemerintah.

Jangan sampai tersubordinasi dengan kekuasaan rektor atau gubernur, hingga menghilangkan nalar kritis organisasi.

IKAPATTI harus menjadi mitra strategis dan kritis pemerintah dan kampus. Publik harus mendapat manfaat dari kritisisme IKAPATI sebagai center of development sumber daya manusia.

Saya yakin, ditangan Ketua Umum IKAPATTI yang baru, Dr. Muhamat Marasabessy, IKAPATTI akan lebih terkonsolodir, maju, dan berkembang.

Beliau adalah birokrat yang dekat dengan Gubernur Maluku. Bisa membantu jalannya pemerintahan dan memberi koreksi serta masukan dari IKAPATTI secara langsung kepada pemerintah daerah.

Energi besar IKAPATTI ini harus dimanfaatkan oleh Ketua Umum IKAPATTI untuk turut membangun kampus dan Maluku. Buatlah Alumni Unpatti bangga, Pak Mat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here