Kebijakan Pemerintah Dalam Rangka Pencegahan Virus Corona (Covid-19) Terhadap Perekonomian Indonesia

0
347
Atika Wael, ST., MT. Foto: Istimewa

Oleh: Atika Wael, ST, MT

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alenea IV mengamanatkan bahwa Pemerintah Negara kesatuan Republik Indonesia melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpa darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Sebagai implementasi dari amanat tersebut dilaksanakan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera yang senantiasa memperhatikan hak dan penghidaupan dan perlindungan bagi setiap warga negaranya dalam kerangka negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada akhir desember 2019, kasus virus corona di Wuhan, Cina, menyebabkan kekhawatiran. Wabah penyakit virus corona ini telah menyebar dengan cepat di seluruh negeri. Dunia telah dihadapkan pada masalah kesehatan yang semakin besar yaitu bencana virus corona merupakan salah satu jenis bencana non alam yang banyak menimbulkan korban jiwa dan Pendemi Corona telah menyebar dengan sangat cepat hanya butuh 30 hari untuk berekspansi dari Hubei ke seluruh Cina daratan (Zhonghua Liu Xing Bing Xue Za Zhi 2020 The Epidemiological Characteristic An Outbreak Of 2019. Novel Coronavirus Diseases (Covid-19) In China).

Pada 7 Januari 2020 diidentifikasi sebagai virus corona (Covid-19) dan WHO menyebutkan sebagai Covid-19 walau virus ini mirip dengan SARS dan MERS ini sangat berbeda dan sangat berbahaya dari SARS dan MERS.

Peristiwa virus corona covid-19 ini mengingatkan kita pada abad ke 14 bencana besar the blas death melanda hampir seluru eropa dan menyebar dengan cepat ke benua asia dan afrika utara.

Wabah mematikan yang bersumber dari penyakit pes ini mencapai puncaknya di eropa antara tahun 1348 hingga 1350. Bencana tersebut diperkirahkan telah membunuh seperempat penduduk eropa dari ujung selatan Italia hingga Kawasan skandinavia, dari Cordoba hingga wilayah Rusia, diperkirahkan korban mencapai 25.000.000 jiwa dari sekitar 102.000.000,- penduduk eropa.

Kengerian akan wabah tersebut digambarkan dengan sampai tidak sanggupnya keluarga untuk mengubur anggotanya yang meninggal, berhentinya seluruh aktifitas politik-pemerintahan.

Kemudian Pada tahun 1720, terjadi wabah Marseille wabah ini terjadi di Perancis menewaskan sedikitnya 200.000 orang, berikutnya pada tahun 1820 terjadi wabah kolera, wabah ini menjalar sampai ke Indonesia pada tahun 1920 terjadi Flu spanyol menjangkit sekitar 500 juta orang.

Covid-19 telah diklasifikasikan sebagai penyakit menular kelas B. Bukan hanya berdampak terhadap kesehatan tetapi juga terhadap perekonomian dunia dan Indonesia. Wabah virus corona punya dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, pembatasan aktivitas mengakibatkan melemahnya daya beli masyarakat menjadi alasan utama, terlebih saat ini Kebijakan menjaga jarak (social distancing) dan kerja dari rumah (work from home) semua harus patuh terhadap anjuran pemerintah guna mencegah penyebaran virus corona di tengah masyarakat.

Potensi bahaya dari bencana nasional dan potensi manusia berbagai factor sekitar karakteristik kepribadiaan kepada kebijakan pemerintah di semua tingkat. Kejadian bencana dapat menyebabkan kerugian ekonomi ataupun korban jiwa. Bencana sering dianggap sebagai sesuatu yang sulit dihindari, sehingga bentuk penanggulangan yang dapat dilakukan adalah berupa tindakan pertolongan sesegerah mungkin. Perkembangan dan pengetahuan tentang bencana kemudian memunculkan paradigma baru penanggulangan bencana, yaitu metigasi bencana.

Dalam paradigma mitigasi focus perhatian terhadap penanggulangan bencana adalah pada pengurangan tingkat ancaman, intensitas dan frekwensi bencana, sehingga kerugian dan korban dapat dikurangi. Proses pencegahan dan mitigasi bencana harus dimaknai sebagai upaya untuk menyiapkan kemampuan untuk responsive terhadap perubahan mampu beradaptasi dan memanfaatkan peluang secara optimal melalui pembangunan kesadaran akan bahaya bencana virus corona yang mengancam sehingga siap dan tanggap menghadapinya.

Tidak hanya tanggap terhadap bencana tetapi juga trengginas ketika bencana datang dalam arti kemampuan untuk secara tepat, cerdas dan tepat mengambil keputusan dan melangka dengan keputusan tersebut untuk mengatasi bencana, menghadapi berbagai macam krisis dan memenangi persaingan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan persentasi penduduk miskin per September 2019 sebesar 9,22 persen, secara angka mencapai 24,79 juta orang diseluruh indonesia dengan garis kemiskinan per rumah tangga miskin rata-rata Rp2.017.664 per rumah tangga miskin per bulan.

Mengutip laporan bank dunia, ada 115 juta orang yang rentang miskin dan mayoritas melakukan pekerjaan informal atau mendapat upah harian. Kelompok ini harus diberi insentif dengan melakukan unconditional direct cash transper atau penyaluran bantuan langsung kepada masyarakat-masyarakat menengah ke bawah untuk menerapkan kebijakan ini pemerintah bisa menggunakan data BPJS atau data masyarakat miskin/terancam miskin.

Dampak negatif yang timbul akibat virus corona adalah terganggunya laju pertumbuhan ekonomi, penyusutan kapasitas produksi dalam scala besar yang berdampak pada kerugian finansial, bencana virus corona tidak hanya menimbulkan korban jiwa tetapi juga kerugian ekonomi yang akhirnya memerosotkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat.

Peristiwa bencana corona yang membawa dampak negatif tetapi juga dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang baru. Menurut UU No 24 tahun 2007 tentang penanggulangan Bencana dan PP No 21 tahun 2008 tentang penyelenggaraan penanganan bencana yang bertujuan untuk menjamin terselenggaranya pelaksanaaan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman resiko, dan dampak bencana salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengurangan resiko bencana dan pemaduan pengurangan resiko bencana dengan program pembangunan.

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi dapat mengurangi kerugian bencana alam di indonesia. Pertumbuhan ekonomi akan memberikan pengaruh negatif yang signifikan terhadap kerugian bencana alam di Indonesia yang artinya setiap tingginya pertumbuhan ekonomi akan menurunkan kerugian bencana alam.

Di sisi lain, virus corona tidak hanya berdampak negatif, namun juga berdampak positif bagi perekonomian Indonesia, salah satunya adalah terbukanya  peluang pasar ekspor baru selain Cina, selain itu peluang memperkuat ekonomi dalam negeri juga dapat terlaksana karena pemerintah akan lebih memproritaskan dan memperkuat daya beli dalam negeri dari pada menarik keuntungan dari luar negeri.

Kondisi ini dapat dimanfaatkan sebagai koreksi agar investasi bisa stabil meskipun perekonomian global sedang terguncang.

Bencana alam tidak bisa dicegah oleh manusia, merupakan kodrat yang tidak bisa dihalangi apalagi ditolak oleh manusia namun resiko yang diakibatkan oleh bencana ini bisa diminimalisasi dengan mengikuti Kebijakan Pemerintah untuk menjaga jarak (social distancing) dan kerja dari rumah (work from home) terlebih utama lagi kesadaran pribadi untuk mengatasi dan memutus mata rantai virus corona seperti yang sudah dilakukan di Cina yang berhasil keluar dari bencana virus corona.

Bagaimana kita memanfaatkan energi bencana virus corona menjadi momentum untuk merevitalisasi ketangguhan kita sebagai bangsa. Untuk bisa mengubah bencana non alam virus corona menjadi momentum tersebut dibutuhkan lompatan kapasitas, lompatan derajat. ketangguhan bangsa. Kita harus merevitalisasi ketangguhan sosial, ketangguhan ekonomi, dan ketangguhan teknologi.

Untuk memanfaatkan energi bencana virus corona kita harus merevitalisasi ketangguhan sosial, ketangguhan ekonomi, dan ketangguhan teknologi. Ketangguhan sebuah bangsa terdiri dari ketangguhan perorangan untuk melindungi dirinya, keluarganya dengan mentaati himbaun dengan keperdulian pencegahan, memerangi virus corona lahirnya solidaritas, keperdulian sosial, kasih sayang dan pengorbanan untuk sesama. Semangat kolektif untuk mengatasi virus corona dan menyelesaikan masaalah bersama, tanpa perencanaan yang baik, kondisi masyarakat berada dalam keterdesakan ekonomi dan rasa belas kasihan penolong untuk memberi bantuan dan santunan justru dapat menimbulkan situasi yang counter productive, merendahkan harga diri, daya juang dan semangat untuk bangkit kembali dari para korban.

Diperlukan perencanaan yang baik dan kreativitas untuk bisa memanfaatkan besarnya dana bantuan yang masuk ke Kawasan bencana agar segerah menggerakan perekonomian masyarakat bukan sebaliknya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here