MTQ 2019 di Buru Momentum Rekatkan Tali Persaudaraan Masyarakat Maluku

0
227
Pembukaan MTQ Tingkat Provinsi Maluku ke-28 tahun 2019 di Kabupaten Buru.

Ambon – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-28 Tingkat Provinsi Maluku Tahun 2019 resmi dibuka di alun-alun Bupolo, Kota Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, oleh Gubernur Maluku Murad Ismail, Jum’at (14/6/2019) malam.

MTQ yang akan berlangsung hingga 21 Juni mendatang diikuti sebanyak 885 peserta dari 11 kabupaten/kota se-Maluku.

Bupati Buru Ramly I. Umasugi dalam sambutannya mengatakan, sebagai satu program yang berskala nasional, MTQ ini menjadi momentum penting bagi semua untuk membangun solidaritas kemanusiaan, baik yang beragama Islam maupun yang tidak. Karena sejatinya nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an harus termanifestasi dalam kehidupan nyata tanpa membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain

“Karena menghidupkan nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan nyata adalah ruh dari isi kandungan al-Qur’an itu sendiri,” kata Ramly.

Menurutnya, nilai-nilai luhur ini sangat tepat untuk kita masyarakat Propinsi Maluku yang heterogen, dengan berbagai keragaman kultur dan corak pemikiran yang telah ada sejak dahulu kala.

“Momentum ini sekaligus merekatkan tali persaudaraan diantara kita masyarakat Maluku demi persatuan dan kesatuan,” sambungnya.

Dikatakan, sebagai daerah yang menjadi tuan rumah, event MTQ Propinsi Maluku yang ke-28 ini, Kabupaten Buru telah berupaya untuk mempersiapkan diri dalam rangka memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh kabupaten/kota se-Propinsi Maluku.

Pelayanan ini diupayakan sebaik mungkin dengan sebuah asumsi, nilai-nilai al-Qur’an yang merupakan fokus utama kegiatan ini harus melekat dalam diri kita masing-masing dan selanjutnya menular ke dalam konteks kehidupan bermasyarakat.

“Kabupaten Buru selalu berproses untuk menjadikan spirit nilai-nilai al-Qur’an ini sebagai bagian dari program peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia di tengah-tengah masyarakat. Langkah-langkah konkret manifestasi telah dilakukan sebagai penjabaran nilai-nilai tersebut secara nyata, yaitu; program Gerakan Bupolo Maghrib Mengaji (GELORA) dan Gerakan Bupolo Membaca (GENCAR) yang telah berjalan beberapa tahun terakhir,” ujarnya.

Gerakan Bupolo Maghrib Mengaji adalah bentuk kepedulian pemerintah daerah dalam rangka menjaga stabilitas kensep Iman dan Taqwa (IMTAQ). Sementara Gerakan Bupolo Membaca sebagai bentuk perhatian pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan kualitas Ilmu Pegetahuan dan Teknologi (IPTEK).

“Inilah sebuah cita-cita besar pemerintah daerah yang mengacu kepada spirit al-Qur’an, yakni membangun peradaban masyarakat serta menjadikan Buru sebagai marcusuar ilmu pengetahuan di tanah Bupolo tercinta,” tandasnya.

Program perpaduan antara Iptek dan Imtaq ini merupakan konsep pembinaan mental spiritual dan pengembangan wawasan. Kita perlu menyadari bersama bahwa perkembangan dunia saat ini yang sudah masuk pada kemajuan 4.0 menuntut kita semua untuk mengambil langkah-langkah kreatif-inovatif agar kita mampu mengejar ketertinggalan dan secara terus-menerus menapaki kemajuan sampai berada pada titik maksimal.

Berdasar pada landasan pemikiran tersebut, Kabupaten Buru berupaya untuk bergeliat dalam konteks kemajuan zaman dengan melahirkan beberapa program pengembangan masyarakat sebagaimana telah disampaikan di awal.

Gerakan Maghrib Mengaji adalah implementasi konkret untuk menuju manusia terbaik sebagaimana ungkapan Nabi Muhammad saw bahwa orang yang terbaik adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.

Sementara Gerakan Membaca merupakan implementasi konkret dari perintah pada wahyu yang pertama kali turun yakni, Iqra’. Perpaduan kedua program inilah yang saat ini menjadi salah satu di antara beberapa skala prioritas.

Komitmen pemerintah daerah dan masyarakat di Kabupaten Buru saat ini adalah ingin mewarnai seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dengan landasan nilai-nilai etika dan akhlakul karimah. Hal ini karena sejarah telah mencatat bahwa peradaban masyarakat yang pernah tumbuh dan berkembang di dunia ini tidak dapat dilepaskan dari pembentukan kepribadian masyarakat menjadi pribadi-pribadi yang bermutu.

Membangun kerjasama yang baik antar berbagai elemen masyarakat, hidup rukun antara tetangga, serta mampu berdampingan dengan berbagai kelompok yang multikultur tanpa menciptakan ketersinggungan sosial adalah merupakan langkah-langkah kecil dalam rangka menuju masyarakat berperadaban.

Membingkai keragaman dalam persatuan dan kesatuan merupakan nilai-nilai luhur al-Qur’anul Karim, sehingga keberadaan kita sekalian pada momen ini sebagai pembuktian begitu sucinya isi kandungan al-Qur’an yang mendorong kita untuk senantiasa menjaga dan merawat kebersamaan dalam perbedaan. Dalam konteks bernegara, pengejawantahan nilai-nilai ini termaktub dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yakni berbeda warna tapi berada dalam satu jiwa yang sama.

Hari ini kita semua berkumpul pada event MTQ tingkat Propinsi Maluku yang ke-28, jika disesuaikan dengan urutan surat dalam al-Qur’an yang ke-28, maka surat tersebut adalah Surat al-Qasas yang bermakna kisah-kisah. Banyak kisah teladan yang bisa dijadikan sebagai pedoman hidup pada surat dimaksud. Jika dikaitkan dengan momentum MTQ ini dan urutan surat di atas, kami berharap semoga pada kesempatan ini Kabupaten Buru mampu melahirkan sebuah kisah terbaik dengan kesan positif untuk kita semua.

Meskipuan secara lahiriyah, akan nampak bahwa seluruh kabupaten kota se-Propinsi Maluku mulai saat ini sampai beberapa waktu ke depan sedang berkompetisi, namun yang perlu digarisbawahi adalah kompetisi ini lebih mengarah kepada konsep fastabiqul khairat, yakni berlomba-omba dalam kebaikan.

Oleh karena itu perlombaan ini harus tetap dijaga nilai-nilai ukhuwahnya, nilai-nilai persaudaraannya, karena pada prinsipnya adalah kita datang, kita berkumpul, kita ber-fastabiqul khairat, dan selanjutnya kita adalah seluruh komponen masyarakat Maluku yang siap untuk membangun daerah kita bersama menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Orang nomor satu di kabupaten yang berjuluk Bupolo ini juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Maluku, Bapak Dirjen Bimas Islam, para kepala daerah se-Propinsi Maluku, serta seluruh kafilah yang telah hadir di tanah bupolo ini dalam rangka memperkokoh tali persaudaraan di antara kita semua.

“Semoga MTQ tingkat Propinsi Maluku yang bertempat di Kabupaten Buru ini memberi efek positif kepada kita semua dan selanjutnya sacara bersama-sama kita mulai dengan langkah-langkah konkret dalam menjaga persatuan dan kesatuan,” harapnya.

“Sebuah pepatah mengatakan jarak 1000 mil pasti akan dimulai dari satu langkah pertama. Tapi jika langkah pertama tidak pernah dimulai, maka jarak 1000 mil dimaksud hanya sebuah angan-angan belaka,” tutupnya. (dm2) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here