Fenomena Ulama Dalam Pertarungan Pilpres 2019

0
1090
Dr. Nasaruddin Umar

Oleh: Dr. Nasaruddin Umar SH., MH.(Pakar hukum Tata Negara IAIN Ambon)

Menjawab keraguan dan ketidakpercayaan publik ditengah krisis tokoh nasional dan kontestasi pencalonan Pilpres 2019 yang kian dekat, munculnya sejumlah ulama sebagai figur alternatif untuk memenangkan Pilpres 2019 merupakan suatu fenomena menarik dalam membaca peta politik nasional dewasa ini. Nama Ustadz Abd. Somad dan Ustadz Salim Segaf Al Jufri direkomendasikan hasil oleh Ijtima Ulama yang digagas oleh GNPF-MUI untuk mendampingi Prabowo sebagai capres yang telah diusung yaitu Gerindra, PKS, PAN dan Demokrat merupakan bukti kuat, betapa ulama menjadi magnet politik dalam memenangkan Pilpres 2019.

Disamping itu, dikubu petahana Presiden Jokowi yang kembali dijagokan sebagai calon Presiden yang didukung partai seperti PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, PPP, PKB, PKPI, PSI dan Perindo juga memunculkan ulama sebagai figur alternatif posisi calon wakil presidennya mendampingi Jokowi dalam Pilpres 2019, seperti KH.Ma’ruf Amin, Tuan Guru Bajang (TGB) dan Prof. Mahfud MD merupakan ulama dan cendekiawan muslim refresentasi umat.

Fenomena mencuatnya ulama sebagai figur strategis dalam menarik simpati rakyat yang telah menggeser figur cawapres dari kalangan elit partai politik, seperti di koalisi keumatan yang sejak awal telah memunculkan sejumlah figur dari kalangan partai seperti Zulkifli Hasan dari PAN dan AHY dari Partai Demokrat. sedangkan, di koalisi kebangsaan ada Muhaimin Iskandar dari PKB dan M. Romahurmuziy dari PPP. Bahkan, menggeser figur dari militer seperti mantan panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantiyo dan Jenderal Moeldoko.

Fenomena ini bukan tanpa alasan, sebab partai politik secara internal mengalami krisis kader yang mempuni dikenal dan dikagumi umat khususnya umat Islam sebagai pemilih terbesar di republik ini, sehingga posisi ulama sebagai panutan umat sangat berpengaruh dalam menarik simpati pemilih disamping itu adanya kerinduan umat Islam akan pemimpin negara yang betul-betul memiliki komitmen agama yang tinggi, yang mampu membawa umat dan bangsa lebih bermartabat. sehingga ulama memandang calon presiden dan wakil presiden dapat merepresentasikan pigur yang berlatar belakang keumatan dan berlatar belakang kebangsaan. 

Prabowo sebagai figur yang merepresentaikan tokoh dari kalangan nasionalis dan Ustadz Abd. Somad mewakili kelompok keummatan, dipandang sebagian pihak sebagai kolaborasi yang ideal. Demikian pula jika dipasangkan Jokowi dengan K.H. Ma’ruf Amin atau Mahfud MD dan TGB merupakan kolaborasi yang tepat dalam menjawab problematika bangsa kedepan.

Secara historis-ideologis memasangkan figur nasionalis dan ulama selalu menjadi komposisi yang ideal, disetiap kontestasi politik di Indonesia sejak masa-masa reformasi seperti munculnya, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden keempat tahun 1999-2001 dipilih oleh MPR RI hasil pemilu 1999. Selanjutnya, KH. Hasyim Muzadi mendampingi Ibu Megawati pada Pilpres 2004, meskipun pasangan ini kalah pada saat itu, namun sejak dulu ulama selalu mewarnai peta perpolitikan di Indonesia baik sebelum kemerdekaa hingga sesudah kemerdekaan.

Peran ulama perlu diakui seperti kepeloporan K.H. Hasyim Asya’ari, K.H. Ahmad Dahlan dalam peran-peran kebangsaannya dan para tokoh pendiri negara yang ikut serat melahirkan Pancasila seperti  Ki Bagus Hadikusumo, Prof. Kasman Singodimedjo, K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, Muhammad Yamin, Mohammad Natsir, H. Agus Salim dan lain-lain hingga terbentuknya partai Islam seperti Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama, Partai Muslimin dan pada Pemilu pertama 1955 Partai Masyumi dan Partai NU mampu meraih 102 kursi di parlemen. 

Hingga masa reformasi, ulama selalu mengambil peran kebangsaannya dan puncaknya dua tahun terakhir ini sejak munculnya gerakan santri dan ulama 212 yang dianggap sangat berpengaruh dalam kemenangan Anies-Sandi dalam Pilkada Jakarta 2018, meskipun awalnya gerakan dimaksudkan untuk mengawal proses penegakan hukum atas kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama dan berhasil membawa Ahok dipesakitan, namun gerakan tersebut terus berkembang hingga menjelan Pilpres 2019.

Munculnya peran ulama dalam momentum perpolitikan nasional yang memang secara historis sangat berjasa terhadap berdirinya bangsa ini, sehingga keterlibatan ulama merupakan bentuk partisipasi politik atau peran kewarganegaraan yang dilindungi konstitusi kita dalam baik dalam pasal 6 maupun pasal 27 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 untuk dicalonkan sebagai presiden dan wakil presiden dan kedudukan yang sama didalam hukum dan pemerintahan yang harus dihormati dan dijunjung tinggi. 

Keikutsertaan ulama dalam memperbaiki kondisi bangsa dewasa ini, juga menunjukkan adanya ekspresi kerinduan umat akan lahirnya pemimpin-pemimpin yang betul-betul amanah dan religus serta politik keummatan sebagai position maker penentu dalam peta percaturan politik nasional disaat negara mengalami krisis kebangsaaan, krisis kepemimpinan nasional belum lagi krisis ekonomi, agama dan moraliltas, yang berakibat munculnya isu-isu disintegrasi bangsa. 

Sebab, fenomena dugaan kriminaliasasi ulama, ideologi komunis, legalisasi LGBT, akhir-akhir ini cukup santer menghiasi ruang publik tahun-tahun terakhir ini hal tersebut mengkhawatiran lahirnya rezim kekuasaan yang sekuler yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Disamping adanya figur nasionalis yang ideologi masih dibutuhkan disaat bangsa masih menghadapi krisis kedaulatan akibat serbuan tenaga kerja asing, privatisasi BUMN dan internasionalisasi aset-aset nasional melaui penguasaan kekayaan alam dan keterlibatan perusahan asing seperti Chevron, Total, Shell, Freeport, Petrochina dalam pengelolaan sektor migas dan pertambangan di Indoenesia seperti di Freeport, blok Mahakam dan blok Rokan serta pertumbuhan ekonomi dan kurs rupiah atas dolar yang kian melemah hingga menembus 14.500 rupiah/dollar, angka kemiskinan dan penggangguran yang masih tinggi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak.

Semoga saja peran ulama dalam Pilpres 2019 kali ini, dapat direspon positif sebagai calon presiden baik di koalisi Prabowo maupun koalisi Jokowi dalam menetukan pasangan masing-masing. Sehingga munculnya figur ulama dalam pilpres 2019, diharapkan mampu menjawab dan menjaga kekhawatiran umat tersebut, sehingga Pilpres 2019 menjadi arus baru lahirnya pemimpin nasional yang negarawan dan religius dalam mengantar bangsa ini ke gerbang kejayaannya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here